
Fikir berdekat dengan pengalaman. Seorang pemikir yang berpengalaman, bisa mengambil natijah (kesimpulan) suatu perkara dengan segera, sedang orang lain memandang perkara itu besar dan sulit. Sebab dari fikirannya dan pengalamannya, dia sudah biasa menjalankan manthinkannya. Kalau perkara ini asalnya begitu, tentu akibatnya begini. Dan perjalanan sunnatullah ini tidaklah akan salah. Yang kerapkali salah ialah jalan berfikir.
Setelah dia menjadi ahli fikir dan berpengalaman, tambah berseri jika dia berilmu. Laksana seorang yang mempunyai sebuah keris pusaka yang tajam, senantiasa diasah dan digosokannya. Kalau keris itu disimpan saja, tidak diasah, digosoknya, akan berkarat, walaupun dahulukala dia bertuah, sebab tuah semasa tajamnya. Orang Jawa menamainya: “Keris yang kehilangan pamor”.
Demikian ilmu dengan fikiran, tidaklan enggan seorang ahli ilmu menambah ilmu, sebab ilmu adalah laksana lautan, bertambah diselami bertemulah barang-barang ajaib yang belum pernah dilihat dan didengar. Orang umpamakan rahasia dan keajaiban alam ini dengan lautan besar. Ombaknya yang memecah, membawakan mutiara dan yang tersimpan di dasar lautan masih banyak, sampai kiamat dunia, perbendaharaan laut itu belum akan habis-habisnya.
Berkata Al-Hasan Al-Basri: “pimpin dan kendalikan lah jiwa dengan baik, karena ia amat liar, dan beri ingatlah, karena dia lekas lupa”.
#sumber: Buku Tasauf Modenern, karya Al-Marhum HAMKA, halaman 140.
By: saifullah.
0 ความคิดเห็น:
Post a Comment