
Sebut gula maka semut lah yang paling suka, sebut darah nyamuk lah yang paling suka, sebut budu maka semua orang patani kita lah yang suka makan, sebut duit maka semua manusia didunia ini suka belako tidak ada terkecuali orang alim atau orang jahil.

Ramai dan geger dengan bahasa politik otonomi untuk patani, tidak terkira, di kedai-kedai kopi pun telah menjadi bahasan dan forum rakyat untuk sebuah kata ‘otonomi untuk patani atau dengan bahasa kampung-kampung kerajaan nak beri balik dah taning kito’. Ma’lum saja lah, sebab gula pun manusia suka juga, bukan hanya semut saja yang suka pada gula, yang sedihnya orang yang terlalu suka makan gula banyak-banyak, lebih mudah menjadi penyakit darah tinggi dan kencing manis, ceria dan gembira awal makan, akhir cerita jadi mangsa keganasan dari rasa gula yang manis.
Mari kita kenal dengan bahasa politik ‘OTONOMI’.
Apa otonomi?.
Otonomi adalah pemerintahan sendiri, daerah/tempatan ada hak, wewenang, dan ada kewajiban untuk mengatur dan metadbir rumah tangga sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Mari kita tengot lebih dalam lagi, otonomi adalah pemerintahan sendiri, kira-kira apa saja yang dapat memerintah?, ini lah yang patuk kita semua bertanya dengan penuh cermat dan hati-hati, sebab otonomi itu diatur oleh undang-undang yang ada dipusat pemerintahan, sekira patani kita dapat otonomi, maka segala peraturan undang-undangan yang penting-penting ada dipusat pemerintahan, tidak bolih pandai-pandai buat sendiri, bila nampak pandai-pandai, maka tali undang-undangan yang ada dipusat akan tarik leher para pemerintahan otonomi, bolih kita beri bahasa kiasan begini pula ‘Seikur Kambing Diikat Dengan Tali Panjang’. Artinya begini, nampak bebas seikur kambing mencari makan dimana saja tempat yang dia suka, akan tetapi bila ditarik oleh tuan yang pegang tali, maka tetap saja suara kambing itu berbunyi ‘bek! Dan bek!’. Nampak senang tapi derita bila mau rasa kenyang.

Cermat Bagi penulis sendiri pun, bahwa otonomi untuk Patani Kita hanya jualan angin minyak wangi saja, tidak lebih dari itu, sebab gajah besar yang angkuh sedang ditimpa kemalangan yang panjang dari gigitan para nyamuk yang haus akan darah merah dan segar. Cerita kelasik gajah Raja Namruq sama para nyamuk liar sedang berputar di Bumi kita Patani Darussalam. Mari kita orang yang ada akal sehat fikir lebih dalam lagi. Wassalam Wr. Wb.
Oleh: Ahmad
0 ความคิดเห็น:
Post a Comment